Gempa Bumi Tasikmalaya dan Sumbar REFLEKSI KESADARAN MASYARAKAT AKAN BENCANA

19 10 2009

Oleh : Nanang WP Safari*

Indonesia di kenal sebagai negeri yang memiliki keindahan dan kekayaan alam yang melimpah, tersebar di seluruh kawasan negeri. Tetapi di sisi lain, seluruh wilayah negeri ini juga berada dalam sebuah wilayah yang rawan akan berbagai macam bencana. Pantas saja para ahli bencana menyebut negeri Indonesia sebagai “supermarket bencana”. Mari kita buka kembali catatan kejadian bencana yang sering terjadi hampir di seluruh kawasan Indonesia, seperti angin rebut, banjir, tanah longsor, erupsi gunung berapi, tsunami dan juga gempa bumi. Kejadian-kejadian itu kian mempertegas bahwa negeri ini memang rawan bencana dan seharusnya kejadian tersebut dapat kita rekam sebagai pelajaran yang berarti bagi kehidupan kita dan bagaimana upaya yang kita lakukan dalam menghadapai bencana tersebut. Pertanyaannya adalah, sejauh mana refleksi kesadaran masyarakat kita akan bencana? Kejadian gempa bumi beruntun yang melanda Tasikmalaya berkekuatan 7,8 schala richter dan Sumatra Barat berkekuatan 7,6 scala richter yang meluluh lantakkan wilayah tersebut, seharusnya dapat kita jadikan tonggak awal bangkitnya kesadaran masyarakat dan pemerintah kita akan bencana. Tidak hanya itu, hal itu sekaligus bisa kita jadikan refleksi sejauh mana perubahan sikap dan pemahaman masyarakat dan pemerintah kita akan kerentanan bencana di wilayah Indonesia. Karena di akui ataupun tidak di akui, kesadaran dan pemahaman masyarakat dan pemerintah kita masih teramat lemah. Padahal ada payung hukum dalam hal Penanggulangan Bencana no 24 tahun 2007 yang seharusnya dapat di jadikan ‘senjata’ untuk memperkuat peran dan posisi masyarakat dan juga pemerintah dalam menyikapi kejadian bencana. Namun, UU ini belum mampu menunjukkan ‘keampuhannya’ karena implementasi dan advokasinya masih nampak bersifat ‘parsial’ dan diberlakukan sekedar ‘menggugurkan akad’- tuntutan. Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Banyak ahli yang mengatakan bahwa bencana dapat di prediksi, sedang waktu pasti kapan bencana akan terjadi sampai sekarang belum ada ahli yang mampu memprediksinya. Karena itulah, satu-satunya upaya yang bisa kita lakukan adalah meningkakan upaya kesiapsiagaan masyarakat akan bencana, salah satunya dengan adanya program Pengurangan Risiko Bencana yang saat ini sedang dilakukan oleh KYPA di Sriharjo, Bina Swadaya di Patalan, CBO Wukirsari di Wukirsari dan beberapa lembaga yang berpogram di wilayah masing-masing atas dukungan penuh CWS Indonesia. Keberadaan lembaga di wilayah program ini bukan berarti ‘dewa penolong’ masyarakat untuk terhindar dari bencana, tetapi berproses dan belajar bersama mengenai upaya PRB. Karena tidak bisa, upaya PRB atau mitigas bencana ini dilakukan hanya oleh satu atau dua pihak saja, melainkan semua elemen harus bersama-sama mengupayakan hal ini dalam rangka mewujudkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Sudah jelas sebenarnya, bahwa dasar pijakan kita dalam mengupayakan kesiapsiagaan masyarakat menghadapai bencana adalah Undang-Undang Penanggulangan Bencana No 24/2007. Tapi sepertinya implementasi Undang-Undang ini kurang optimal dilakukan oleh pemerintah. Hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat apatis dan apriori terhadap upaya penanggulangan bencana, karena pemerintah sendiri masih berkutat dalam ranah ‘pemikiran’ hal ‘tekhnis’ dan administrative ketimbang segera mereposisi peran dan fungsinya dalam mengimplementasikan – menginstruksikan UU ini ke tingkat bawahnya. Karena bagaimanapun juga, masyarakat desa lah yang seringkali menjadi ‘target’ dampak bencana, seperti korban jiwa, korban material ataupun ‘korban’ atas lemahnya dan atau kenihilan kebijakan dari pemerintah yang kurang memihak kepada mereka sebagai ‘korban’ bencana. Jika pemerintah (kota/kabupaten) tidak segera menginstruksikan jajaran dibawahnya (dari tingkat kecamatan dan tingkat desa ) untuk melakukan langkah kongrit dalam mendukung implementasi UU ini, maka masyarakat akan kian tak berdaya menghadapi bencana (pasrah). Dan ini berarti kegagalan dalam merefleski bencana yang sudah sering terjadi – jas buka iket blangkon/sama saja sami mawon, yang artinya tidak ada perubahan berarti atas bencana yang sudah terjadi (which is…..) banyak korban meninggal, kerugian material dan dampak lainnya.. Tidak heran, jika partisipasi masyarakat dalam kegiatan PRB belum menggembirakan – kalau tidak boleh di katakan malas – Kehadiran masyarakat nampaknya hanya sekedar menggugurkan akad (tuntutan) permintaan lembaga, belum sepenuhnya memahami urgensi kegiatan. Bagaimana bisa kita menggalakkan kesiapsiagaan bencana di masyarakat, kalau masyarakatnya sendiri juga masih ogah-ogahan? Seharusnya, pemerintah jeli melihat kondisi ini. Kondisi dimana ‘ketertarikan’ masyarakat terhadap program PRB masih rendah. Sehingga pemerintah harus segera mencari jalan keluar yang mampu menggugah ‘minat’ dan kesadaran masyarakat akan pentingnya PRB. Ini akan tambah parah, jika pemerintah juga ‘ogah-ogahan’ berinisiatif menyikapi kondisi ini. Refleksi Kesadaran Expererience is the best teacher. Demikianlah pepatah yang hampir pasti kita ‘khatam’ – tuntas memahami artinya. Tapi untuk urusan bencana, sepertinya kita belum memahami arti pepatah itu sebenarnya. Yang sering kita dengar adalah ungkapan menyalahkan alam, kalau tidak menyebut bencana sebagai ‘amarah’ Tuhan dan berujung pada ungkapan ‘pasrah’. Apapun dan bagaimanapun konsepsi dan pemahaman kita terhadap bencana, bencana tetap akan datang kepada kita, karena demikianlah posisi negara kita yang rawan bencana. Kalau kita tidak segera arif dan bijak menyikapi bencana yang sudah terjadi dan kemudian tidak merencanakan/melakukan langkah-langkah kongrit menghadapi bencana yang mungkin datang, maka esensi Undang-Undang No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan peraturan lain yang menyertainya sama sekali tidak ada alias muspro (sia-sia). Mari semua pihak ; pemerintah, LSM, masyarakat dan semua elemen bersatu menyuarakan kesiapsiagaan bencana secara lebih serius – bukan hanya sebuah ‘artikulasi makna’ PRB. Lebih baik kita melakukan refleksi kongrit daripada keseringan melakukan ‘refleksi’ yang bersifat seremonial dan artificial untuk memperingati bencana. Karena hanya dengan bercermin dari pengalaman lah kita akan mampu menggalakkan kesiapsiagaan/mitigasi bencana/PRB yang benar-benar berarti bagi kemanan dan kenyamanan masyarakat kita yang hidup di kawasan bencana. Semoga. *Staff KYPA Yogyakarta





Baca aja mpe dower ntu bibir!!

3 04 2009

Mawar marah di dinding…
Selamat membaca ampe garing…

T : Kalau Asterix habis kerja berat dan capek sekali, jadinya apa ?
J : Pegel Linux

T : Kenapa burung garuda kepalanya selalu nengok ke kanan ?
J : Karena dia sudah putus hubungan dengan nyamuk

T : Monyet apa yang berdiri di tepi jalan ?
J : Monyetop angkot

T : Kentang apa yang dingin ?
J : Kentangkuban perahu malam-malam

T : BMW apanya yang mahal ?
J : W-nya, soalnya kalo diganti X jadi murah

T : Saya punya uang Rp 150, terus saya beli permen Rp 75,
berapa kembalinya?
J : Kembalinya Rp 25, karena bayarnya pake uang ce’pe’an.

T : Kalau orang kepalanya botak di depan itu tandanya pinter,
kalau botak di belakang berarti kebanyakan mikir,
kalau botak depan belakang apa ?
J : Dia pikir dia pinter

T : Sayur apa yang besar ?
J : Dinosayurus

T : Pohon apa yang paling banyak pada hari Lebaran ?
J : Pohon maaf lahir dan batin

T : Apa bedanya wayang, sepatu dan jengkol ?
J : Kalau wayang ada semar, sepatu di semir, jengkol di semur

T : Kera apa yang basah ?
J : Keramas

T : Hitam putih merah ?
J : Zebra masuk angin habis dikerokin

T : Sayur apa yang bisa dibuat nyanyian ?
J : Sayur-nara

T : Apa bahasa Rusianya kesenggol mobil ?
J : Keseremvet Chevrolet

T : Apa bedanya bajaj sama kura-kura ?
J : Kura-kura kalau didekatin kepalanya masuk kedalam, kalau bajaj
disuruh mendekat kepalanya keluar “mau ke mana bu ?”

Lahir di Arab, gede di Arab, lama di Arab, tapi nggak bisa bahasa Arab?
…..UNTA !!!

Superman dan Sudirman masing-masing punya anak?
…..Super Boy dan Sudir Boy !!!

Apa ada ayam berkokok pagi-pagi?
….Tidak ada! Ayam berkokok kukuruyuk!

Kenapa merk sepeda motor buatan Jepang YAMAHA?
…Kalo buatan Arab YA MAHMUD !!!

Kenapa umumnya siluman berwujud buaya, harimau, atau monyet besar?
….Sebab kalau wujudnya SEMUT ngga kelihatan, ngga menakutkan dan
ngga ‘ngaruh !!!

Lele apakah yang sangat ditakuti manusia normal tapi dipuja anak-anak????
Leletabis

Lolly apa yang manis?
Lollyatin aja gue…..

Kalo teletubbies kebanyakan makan jadi apa?
buletabis

Kalo teletubbies kebanyakan makan MSG jadi apa?
bolotabis

Kenapa robin jadi superhero?
karena dia ketemunya sama batman, kalo ketemu sama baskin dia jadi
tukang eskrim

Rambo lahirnya dimana?
di turunan, waktu nganterin ibunya, mobil bapaknya remnya blong,
si ibu bilang rem bo’!

Kenapa Superman di sebut superhero ?
kalo supermarket tempat belanja dong…

Selamat membaca part 2

Monyet, monyet apa yg ada nya di lapangan bola ?
monyetak gol…

Tempe apa yg bisa naek sepeda ?
orang lagi naek sepeda sambil makan tempe

Di makan berasa nggak di makan gak berasa ?
Makanan

Kenapa superman bajunya make huruf S ?
kalo makenya XL ntar gak keliatan keker….

Kenapa batman gak make huruf B?
karena udeh dipake sama Bobo…

Kenapa monyet jatoh dari pohon ?
monyetnya kepleset

Kenapa tarzan jatoh dari pohon
dikiranya jatoh dari pohon lagi ngetrend

Baso apa yang bisa berenang ?
baso ikan

Binatang ..binatang apa yang paling bau?
serigala..berbulu ketek!

Binatang..binatang apa yang paling haram?
babi hamil, soalnya MENGANDUNG BABI..hahah

Produser apa yang namanya mirip sama kata pepatah?
tiada rotan raampun jabi

Kenapa superman bisa terbang?
soalnya kalo nyetir mobil namanya supir maaan!

SMA apa yang demen tawuran??
SMA C.K.D.O.W.N hehe..

Apa persamaan telpon ama jemuran?
Kalo kering diangkat. Hihihi

Kopi apa yang bisa menggigit ??
Kopiting

Bulu apa yang warnanya kuning semua???
Bulubend

Bisnis apa yang terkenal di Amerika dan seluruh dunia???
Bisnispear

Lap apa yang digemari wanita?
westlap

Udah pada pernah denger lagu hening ?
hening selasa, rabu kamis, jumat sabtu minggu itu nama-nama hari

Ayam apa yang pinter hayooo???
Ayam yang sekolah

Kenapa ayam kalo nyebrang ngga liat kiri- kanan?
Karena nggak ada mobil

Panci apa yang gagangnya panjangnya bisa ampe semeter?
pancingan ikan

Panci apa yang dimakan abis makan nasi?
Hidangan pancici mulut

Panci apa yang lagi trend ditonton orang?
Pancikho

Panci apa yang bisa ketelen anak kecil?
pancing baju

Panci apa yang ditaro di pohon?
panci gua, suka2 gua taro dimana…

Panci apa yang diapalin anak sd?
Pancisila

Panci apa….yang bisa terbang?
Sempanci Air (sekarang dah ga ada euy )

Sebelum dimasukin kering, dikeluarin basah. Apaan tuu?
Teh celup.

Ayam apa yg merasa bersalah?
ayam sori

Kera apa yang bikin gemuk?
keranjingan makan

Kera apa yang adanya di pojokan?
keranjang sampah

Kera apa yang nyeremin?
kerasukan setan

Kera apa yang hidup segan mati tak mau?
kerakap

kera apa yg berharga?
keramat

Kera apa yg sakit?
Keram

Laba2 kalo masuk WC kakinya tinggal berapa ?
tinggal 7, soalnya yang satu buat nutup idung…

Kenapa anak babi jalannya nunduk ?
karena dia malu punya emak babi..

Gimana caranya 71 orang naik mobil VW Kodok bersama-sama sekaligus?
2 didepan, di belakang posisi 69

Kenapa laki-laki suara kentutnya lebih keras di banding para wanita?
Karena laki-laki punya Microfon

Orang bungkuk tidurnya gimana?
Merem!!

Apa yang naik turun di bawah Puser?
Resleting…

Kenapa Cowo kagak perlu pake pembalut?
Karena kalo pake dikira HOTDOG

Bulet, Panjaaaaang, ditengah paha hayo apa?
Tiang listrik di panjat orang.

Gimana caranya ngehilangin Bau pete di mulut?
Makan Jengkol

Kenapa dulu banget superman terbang dengan satu tangan deket dada?
soalnya masih manual

Apa yang menyebabkan SWAMP THING berwarna hijau..?
Chloropyl…

Bunga apa yang paling mahal?
Bungalow

Apa bedanya kepala ama kelapa?
Kalo kepala dicukur jadi botak, kalo kelapa dicukur jadi batok.

Apa beda gajah ama cowok ?
kalo gajah kepalanya berbelalai.. kalo cowok… (trusin sendiri)

“Why do chickens cross the road?”
“Because they want to get to the other side..”

“Why don’t chickens cross the road?”
“Because they have no guts..” (what do you expect? they’re CHICKENS..!)”

Kerangka apa yang belum pernah di temukan fosil nya…?
kerangka karangan…

Selamat membaca part 3

Monyet apa yang jalannya mondar-mandir?
Monyetrika baju….

Bebek apa yang bisa nyanyi?
bebeksrit boys…….

Ikan apa yang bisa terbang?
ikan nyangkut di roket.

Kenapa batman sama robin keluarnya malem?
kalo pagi ada three-in-one

Kenapa superman sama spiderman kostumnya biru-merah?
beli bahannya patungan
Kenapa ngga item?
bahan item abis dibeli batman yang dateng lebih pagi

Kenapa dulu supermen kalo terbang tangan kirinya ditekuk?
pesnelingnya blom otomatic
Kenapa sekarang dua-duanya dilempengin ke depan?
udah ada cruise control

Apa bahasa cina-nya belok?
nie kung

Apa bahasa cina-nya minuman?
the kho tak

Apa bahasa arab-nya makan sepuasnya?
Al Yukenit

Orang apa yang ditembak nggak mati?
Orang nggak kena……..wekkkk

Kenapa suku irian/papua memakai koteka?
Karena kalau pakai daun pisang ntar dikira lemper

Daun apa yang nggak bisa dipegang???
Daun touch me !!

Kenapa meja bagian bawahnya selalu kasar, tidak sehalus bagian atasnya?
Karena bagian bawah meja banyak upil yang udah kering

Sambel apa yang ada dipinggir jalan ?
Sambel Ban

Apa bahasa cinanya sepi???
Zun yi Zen yap

Kenapa anjing laut berkumis..?
karena mo nakutin kucing laut

Daun apa yang paling keras???
Smack daun.

Apa bahasa arabnya diam di tempat ?
Ta’kabur

Putih kecil, kalo dipukul ngebangunin orang sekampung???
Nasi nempel di bedug

Dikocok, tegang. Hayo apaan???
Ibu-ibu arisan

Kenapa donal bebek nggak pake celana…?
krn di pake ama miki mos…

Bebek apa yang di bejek-2 & di tumbuk-2…?
rujak bebek…

Bahasa Arabnya…..
Rumah : Al amat
Aktor : Al pacino
Hangus : Al rang
Buah : Al pukat
Kecelakaan : Al lamak
Al Catraz—> Penjara ya???
Berarti… Al alala long itu artinya lagu yah? Hehehe.

Kenapa asterix maennya ama obelix ??
Karena batman udeh diajak ama robin..

Kalo ada superman dan supergirl, batman dan batgirl, kenapa koq ada
spiderman tapi gak ada spidergirl ??
Karena cewek takut ama laba2…

Lem apa yang bisa nyanyi hayoooo??
Lembizkit

Sapi apa yang bisa nangis?
bella sapira

Kenapa orang-2 dulu kecil-2 dan pendek-2…?
nama nya juga jaman dulu, kita jaman dulu kan kecil-2 dan pendek-2 juga…

Monyet apa yang paling nyebelin ?
Monyet-tel TV nggak boleh, mau monyet-tel radio nggak boleh.

Mobil apa yang bisa naik pohon ?
Mobil-lang monyet bisa, mobil-lang orang juga bisa,mobil-lang ulat juga
bisa.

Kalong apa yang bisa main bola ?
Kalong-ga pele yaa maradona

Telor apa yang paling keras ?
Telor-toar

Kenapa orang kalo nembak, matanya ditutupin satu ?
Yaaa kalo’ dua-duanya ditutup nggak keliatan jadinya.

Kenapa mayat harus dimandiin ?
Karena mayat nggak bisa mandi sendiri

Kenapa orang kalo’ berjalan tangannya goyang ?
Karena dia pake celana

Kalau kambing berjalan dengan kaki, ikan berenang dengan sirip maka gajah
terbang dengan ?
Susah payah.

Sebutkan nama hewan yang terdiri atas 1 huruf ?
Ehhmmmm…. i kan ??
Bukan…… g ajah lagi !

Apa yang ada ditengah sawah ?
Huruf w

Apa yang ketika masuk tanda seru namun ketika keluar jadi tanda tanya ?
Orang lagi ngorek idung.

Apa yang mudah keluar saat lobangnya sempit tapi malah sulit keluar kalau
lobangnya diperlebar ?
Meludah.

Bahasa Jepangnya naek motor ?
Suzuki ku naeki

Bahasa Jepangnya nenek bisa terbang ?
Kukira takada

Kelapa apa yang tumbuh subur di Somalia ?
Kelapa ran

Kalau ada seorang nenek kecebur masuk sumur maka timbul-nya dimana ?
Ketoprak humor.

Tempe apa yang menyakitkan ?
Tempeleng

Bahasa Inggrisnya nasi apa? rice,
bahasa Inggrisnya panjang apa? long.
Dan kalau bahasa inggrisnya nasi panjang apa? Lontong…

Apa bahasa indianya bumbu dapur?
Tumbar miri jahe

Orang apa kalau dipukul gak sakit-sakit?
Orang gak kena yeeeeeeeeee…..

Binatang apa yang kakinya delapan?
Sapi gendongan sama kuda

Jus apa yang turun dari langit?
Justru itu gua ngga tau…………..

Apa bahasa chinanya anak kecil terpeleset?
Lichin thong…

Apa beda unta dengan kangkung?
Kalo unta di arab, kalo kangkung di urap .

Kenapa ayam kalo berkokok matanya merem?…
Karena udah hapal teksnya…

Kenapa orang batak nggak pernah bisa jadi pilot?…
Bayangin aja kalo lagi terbang terus teriak2…”oper.. oper… oper
belakang!!…”

Apa bedanya tukang pajak ama palak?
Kalo tukang pajak nagihnya pake surat, kalo tukang palak pake urat

Kenapa di bajaj ga ada nyamuk?
Nyamuk sini cuma takut Tiga Roda

Hewan apa yang makanannya aneh?
Belalang kupu-kupu, klo siang makan nasi klo malem minum susu.

Ada orang buta, tuli, bisu makan di restoran, yg bayar siapa?
Yang buta, lagi ultah.

Mie dan tahu apa yang lagi terkenal?
tahu ming se, mie telor garden. (F4)

Rambut apa yang warnanya ijo?
Rambut…an belom mateng

Obat apa yang jago maen bola?
Obatistituta

Peace & Love





Tuhan..Ini tentang Aku dan Engkau (bahwa aku bersyukur aku lahir mengikuti jejak Muhammad)

2 04 2009

Dan Tuhan itu begitu dekat dengan kita……

Tuhan???
Ini tentang Tuhan yang gw tau…Tuhan yang menurut agama yang gw anut bernama Allah..Dia adalah pencipta alam semesta dan segala isinya termasuk kita manusia. Dia lembut – bukan tukang naik darah ; Dia memaafkan – bukan pendendam ; Dia penuh kasih – bukan tukang menghakimi ; Dia itu murah hati – tidak kikir atau perhitungan, Dia lemah lembut – tidak kasar, Dia juga bisa jadi sahabat kita dan mau mendengarkan kita ; Dia tau apa yang sedang kita alami dan memberikan kita kekuatan untuk dapat lalui itu, Dia baik…sangaaat baik…dan kalo kita yang ‘katanya’ dekat dengan Tuhan pasti memiliki bagian2 itu…Pastinya..bahwa yang namanya Tuhan itu more moreeeeee than that…..pokoknya He is awesome dah…….. :)
Dan ini adalah sebagian catatan kecil tentang bagaimana gw ngrasa dekat dengan Tuhan….Entah, kata ‘dekat’ ini berlebihan atau tidak. Tapi begitulah yang selalu gw rasakan. Tuhan begitu terasa dekat tatkala dalam setiap 5 kali kewajibanku sebagai muslim kutunaikan, Tuhan begitu dekat seolah-olah Dia menjamah lembut keningku ketika sujud Dhuha dan Tahajjudku bersemayam di sajadah pemberian Ibuku….dan Subhanallah…Tuhan begitu dekat ketika kebahagian yang gw rasakan bisa terbagi dengan memberi sedekah dan amal semampu gw…
Bagi gw, tidak cukup waktu 5 kali dalam sehari, kita sebagai hambanya bertemu dan ‘ngobrol’ denganNya..Kenapa? Karena Tuhan mboten nate sare….Gusti Allah itu selalu pirso dan mirsani segala perbuatan baik dan buruk kita..sekecil apapun itu. Tidak jarang gw menangis tak henti, ketika Allah kerso mendengarkan curhatan gw tentang hidup ini, sekalipun gw datang dengan menceritakan banyak hal, gw cukup yakin bahwa Allah tidak akan pernah lelah mendengarkan keluh kesah kita sebagai hambanya. Allah paling cuman tersenyum….dan selalu berkata….”Aku pasti akan berada di dekatmu…dan akan menolongmu..Tentu jika kamu selalu mengingatKu…” begitu mungkin Allah menjawab setiap curhatku…
Tuhan..
Gusti Allah yang selalu paring kalimpahan iman dan Islam…
Terima kasih atas kesedianMu mendengarkan alunan kisah hidupku sebagai hambaMu..
Dan terima kasih atas kesediaanmu menerimaku sebagai insan yang ‘dekat’ denganmu….
Asyhadualla Ilaha Illallah…
Waashadu anna Muhammadarrosulullah…….

Jogja, 25 Mei 2008
(Tanggal dimana hari ini Tuhan mempertemukan aku dengan dunia… )





Bertemu Dengan ‘TAUBAT’

6 03 2009

Manusia (termasuk aku)  tanpa kita sadari seringkali bersikap sombong dan angkuh di dunia ini. Kita merasa memiliki ‘dunia’ ini, dan bahkan terus terobsesi oleh cita dan harap bahwa kita akan menguasai ‘dunia’. Kita begitu khilaf, sehingga cukuplah rapuh wujud kita sebagai manusia – makhluk ciptaanNya yang seharusnya menghamba dengan hina. Dengan kesombongan dan keangkuhan kita pulalah, yang kemudian membutakan mata kita,  bahkan mata hati kita untuk sedikit mau mencerna tingkah perbuatan kita. Ketiadaan sensivitas individu kitalah yang akhirnya membuat kita jauh dari Nya, dan bangga menyabdakan “kita bisa!!!”. Mungkin inilah kelemahan manusia…..Begitu susah bagi kita sebagai manusia untuk mengakui kelemahan kita…..Pun begitu susah bagi kita sebagai manusia untuk mengakui kehampaan diri dalam kenistaan….dan ironisnya, prahara dalam hati kita seperti kita nina bobokkan dalam nikmatnya kehidupan dunia……dan kita membiarkan itu…….!!!!

Dan sore itu, Allah seperti menunjukkan padaku kebesaranNya. Di sebuah komunitas Rumah Singgah bagi komunitas Bangjo (Anak Jalanan), aku menemukan sebagian kegelisahan itu….sebagian kecil dari kebesaranNya. Saat ust Abi membacakan taburan kalimat doa menyentuh asma Allah,  entah apa yang ada dalam pikiranku dan apa yang sedang bergejolak dihatiku, aku tak kuasa menahan air mata ini menetes di wajahku yang beku oleh hampa…..Doa itu seperti hujaman bagiku dan menggelegar bersambut petir, seiring datangnya tetes hujan di awal musim kemarau. Subhanallah!!! Aku merasa begitu dekat denganNya….sangat dekat bahkan. Ia seperti sedang membelai pundakku seolah-olah ingin menyampaikan kepedulianNya kepadaku dan tidak ingin membiarkan aku larut dalam duka….Dan aku semakin meyakini bahwa Allah masih sangat sayang padaku…..

Yah!! Aku akan terus meyakini ini dalam hatiku…Bahwa kekuatanNya akan melebur dalam tiap detak jantungku dan setiap aliran darahku – yang kemudian akan membimbingku ke dalam dekapanNya….sentuhanNya….belaianNya…dan tentu ridloNya…..Aku sadar, sebagai manusia yang belum cukup mampu mengemban daulah dan titahNya, aku masih akan terus mengumbar perangai kedengkian, amarah, kejumudan, kesombongan dan kebathilan….Tetapi aku akan terus berusaha sampai titik keimanan kaum ‘muttaqien’ dan selalu menyeru kepadaNya …(paling tidak) aku berupaya memperbaiki jejak langkahku untuk menemui sang penjaga Surga.

Dan di sore itu pulalah, gambaran surga itu indah menyengat mata batinku. Syair doa yang terlantun indah…indah sekali, seolah menyentuh singgasana sang Khalik di atas sana. Ia begitu dekat….sangat dekat bahkan!!! Butiran air mata yang menetes melalui wajah bekuku juga seperti tersiram oleh kedamaian yang kutemukan sore itu. Dan hanya dengan tersenyum, Allah mengisyaratkan bahwa Dia masih ada untukku…..selamanya!!

Tapi ternyata tidak hanya aku yang merasakan hal itu…merasakan bahwa Allah masih sangatlah begitu besar….merasakan bahwa kucuran rahmatNya memang tidak akan terhenti sekalipun nista merajut di sanubari…..

Adalah  seseorang yang tinggal disitu – sebut saja Asep –  yang juga merasakan itu. Ketika ust Abi meramu kalimah doa’nya, ia ku lihat tertunduk lesu….menangis sendu dalam rengkuhan batinnya yang menjerit. Ia merasa begitu hina atas apa yang selama ini dia jalani. Kehidupan kelam membuatnya lupa akan hakekat dirinya sebagai ciptaanNya, tak pernah ia sebut asma Allah dalam hidupnya, tak pernah ia berucap sholawat pada sang Nabi Muhammad..dan tak pernah sekalipun ia menemukan dirinya dalam iman.

Akupun tidak menyangka, melihat penampilan fisiknya yang jauh dari deskripsi seorang pelaku kejahatan. Ia hampir tidak mempunyai kekurangan fisik ; cakep, maskulin dan kalem. Tapi siapa sangka, dibalik penampilannya itu, ia ternyata pernah melakukan sebuah kejahatan.

Ia masih ingat betul kejadian malam itu, kejadian yang menjadi noktah merah dalam sejarah kehidupannya. Dan Ia pun terasingkan dari keluarganya. Kejadian itu memaksanya untuk mengubur impian menemukan kebahagiaan dengan anak istrinya, dan mengakhiri nya dengan perceraian.  Istrinya pulang kampung ke Pekalongan dengan membawa serta anaknya yang masih berumur 3 tahun.

Sambil menikmati isapan rokok di halaman rumah singgah sesudah tausiah itu, Ia berkisah tentang kehidupannya yang  kelam – dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia menjadi Perampok..Yah – menjadi ‘durjana’  – meskipun bukan pilihan Asep, tapi nyata-nyata ia  menempuh jalan itu untuk beberapa lama. Ia nikmati dunia itu, dan tak lagi mengindahkan kehidupannya yang seharusnya indah.

Malam itu, kenikmatannya menjadi seorang ‘durjana’  harus berakhir ditengah kepungan masa, sesaat sebelum ia melakukan aksinya. Di tengah kepanikan menghindari kepungan dan (tentunya) amukan massa, Ia mencoba melarikan diri dengan melompati tembok setinggi 2 meter itu. Ia meloncat ke bawah , tepat di atas gundukan pasir. Begitu nampak oleh dia massa yang beringas mengejar dia, dia pun bermaksud melarikan diri untuk menyelamatkan dirinya. Tapi kakinya tak mampu berlari. Pergelangan kaki kanannya patah, tanpa ia sadari.  Padahal kakinya jatuh tepat  di gundukan pasir yang membumbung hampir satu meter, dan tembok itu hanya setinggi dua meter…Bagaimana mungkin itu terjadi? Pikirnya waktu itu…Ia pun malam itu harus merelakan ‘perjalanannya’ berakhir di ujung todongan pistol aparat kepolisian yang siap memborgolnya dan massa yang terus berteriak-teriak mengutuk aksinya.

Dengan pengawalan ketat oleh petugas kepolisian, dan dengan tangan masih terborgol, Asep dilarikan ke  salah satu Rumah Sakit swasta di Jogja. Disana, ia barulah mengerang kesakitan menahan sakit yang begitu menyiksanya. Dalam kesendirian merasakan kesakitan, ia berharap anak istrinya beserta keluarganya akan menjenguknya…..Tapi ternyata tak satupun keluarganya yang datang. Padahal,  petugas sudah memberitahukan kejadian tersebut kepada pihak keluarga Asep.

Dokter pun memutuskan bahwa pergelangan kaki Asep harus di operasi untuk menghindari amputasi. Mendengarnya, Asep hanya menunduk lesu dan pasrah jika memang kaki kanannya harus di amputasi. Rasa-rasanya tak mungkin jika Asep diminta menanggung biaya operasi tersebut. Lagi-lagi, ia hanya pasrah.

Tapi entah mukjizat darimana, secara tiba-tiba dokter yang merawatnya ‘menawarkan’ bantuan untuk membiayai seluruh kebutuhan operasi Asep. Sebut saja dokter itu bernama – Dr Hans. Ia menangis….Ia peluk dokter itu dalam kondisinya yang hampir putus asa. Bagaimana mungkin seorang dokter peduli akan nasibnya – nasib seorang ‘penjahat’? Tangisnya semakin keras menggema di ruangan itu, ketika dokter itu dengan santun mengatakan…”Sudah mas Asep, ini merupakan kehendak Tuhan..Sebagai wujud KasihNya kepada hambaNya….”. Ia peluk kembali dokter itu erat..erat sekali!

Kejadian itu juga yang membawanya ke Rumah Singgah yang saat ini ia tempati bersama para penghuni lainnya. Disinilah Asep menemukan kehidupan baru yang kembali bisa membuatnya tersenyum. Tersenyum bahagia  bisa kembali merasakan betapa indah kehidupan ini, sebenarnya. Berada di tempat ini, Asep bisa melupakan duka dan masa lalunya.Terasingkan dari keluarga besarnya juga sudah tidak lagi menjadi beban baginya. Hanya ada satu hal yang sampai saat ini masih dirasakan berat oleh Asep yakni kehilangan Istri dan anak tercinta. Apalagi, begitu mendengar kalau istrinya mau nikah lagi dengan laki-laki lain. Mungkin memang ini sudah takdir sekalius hukuman dari Allah atas apa yang selam ini ia perbuat. Ia cukup sadar akan hal iru.

Bagaimanapun juga, kejadian itu merupakan ’sebuah catatan’ dari proses perjalanan kehidupan seorang Asep. Kini, Asep sedang membangun kembali mimpinya. Mimpi yang sekian lama terkubur..mimpi beberapa waktu lalu terbutakan oleh keadaan..dan….mimpi yang dulu tertutup sentuhan Iman…..Dalam ketertundukannya sore itu, terbayang kembali kehidupan indah….Dan semuanya karena satu hal, bahwa sore itu, Ia bertemu dengan TAUBAT….

Jogja, November 2008

Salam,

Nanang





Video Partisipatif – Video Komunitas ; Menyuarakan Aspirasi Masyarakat Yang Terpinggirkan

3 03 2009

Media ‘gambar-hidup bersuara’ (audio visual), dikenal sebagai jenis media yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap penontonnya, terutama karena kemampuan ‘menirukan’ (mimetic) dari kamera video untuk memindahkan berbagai kejadian atau kegiatan dan tindakan manusia ke dalam bentuk gambar-hidup bersuara secara nyaris sempurna. Berkat kemajuan teknologi optikal dan digital dalam proses-proses penyuntingan (editing), rekaman gambar-gambar oleh kamera video bahkan sudah sampai pada taraf dapat ‘diubah-sesuaikan’ sehingga membuatnya jauh lebih dramatik daripada ‘yang sesungguhnya’. Unsur suaranya yang juga sudah sampai pada taraf sudah dapat ‘diubah-sesuaikan semakin meningkatkan kemampuan efek dramatiknya. Teknik-teknik  penyuntingan gambar video bahkan sudah mampu menyusun dan merangkai gambar-gambar tersebut ke suatu penggambaran baru yang berbeda sama sekali, atau bahkan yang masih berupa rekaan sekalipun. Jadi, bukan sekadar ‘apa adanya’ lagi. Semua itu, tentu saja, menurut kehendak dan sesuai dengan tujuan sang pembuatnya untuk menggiring penonton menerima apa yang mereka sampaikan.

Sama halnya dengan jenis film bukan cerita (non fiction), seperti misalnya, film dokumenter (documentary). Secara teori dirumuskan bahwa film dokumenter adalah pemanfaatan kapasitas rekaman suara dan sinematografi untuk menghasilkan kembali  penampakan fisik atas sesuatu. Film dokumenter membentuk ‘ingatan populer’, menawarkan cara-pandang dan penafsiran atas isu-isu, proses-proses, dan peristiwa-peristiwa kesejarahan. Dalam pengertian ini, film dokumenter menampilkan bentuk kenyataan yang ‘bukan merupakan suatu kebenaran untuk ditelaah’, melainkan sebagai ’suatu kenyataan sosial dan historis yang hanya dapat dipahami dalam konteks sumber sang pembuatnya’. Sehingga, film dokumenter sebenarnya bukanlah bentuk penyajian kenyataan atau peristiwa yang sepenuhnya objektif, tetapi menyajikan gambaran suatu kasus atau kejadian dengan susunan atau rangkaian (struktur) bersengaja dan pengaturan sudut-pandang subjektif sang pembuatnya untuk mempengaruhi orang lain.

Jadi, sama sekali tak ada film dan media apapun yang benar-benar netral. Karena itu, harus disadari sejak awal bahwa setiap film atau media audio-visual apapun jenisnya selalu mengandung pesan dan kepentingan subjektif sang pembuatnya, mulai dari sang perekam gambar, penulis naskah, penyunting dan pengarah cerita serta, tentu saja, pemilik modal yang membiayainya, sampai ke para pengusaha periklanan yang menawarkan dan menganjurkannya, serta para penyalur dan pemilik media-massa yang menyiarkannya

Pemahaman mendasar inilah yang mestinya terlebih dahulu dijelaskan kepada masyarakat awam yang dilibatkan dalam kegiatan penggunaan media video dalam  upaya dan proses pemberdayaan. Hanya dengan pemahaman kritis semacam itu kita dapat melihat hubungan antara politik ekonomi dari media, dan bagaimana sesungguhnya kedudukan mereka sebenarnya selama ini di dalamnya lebih dari sebagai pengguna pasif.

Pengertian dasar partisipasi bukanlah ‘mengajak semua fihak’ apalagi dengan keharusan menampung kepentingan semua fihak tersebut – yang, dalam kenyataannya, justru lebih banyak saling bertentangan. Pengertian asalnya jelas-jelas menekankan pada ‘melibatkan kelompok atau lapisan masyarakat yang – oleh berbagai ketimpangan sosial politik, ekonomi, dan budaya selama ini-terabaikan oleh kekuasaan (termasuk kekuasaan atas media mainstream)– dari proses-proses pengambilan keputusan yang menentukan nasib mereka’. Istilah ‘video komunitas’ jelas-jelas mengandung pengertian ‘berbasis komunitas’ (community-based), merujuk pada suatu kelompok masyarakat tertentu, dalam batasan ruang dan waktu tertentu pula -jadi, sama sekali tidak ‘anonim’– dengan berbagai permasalahan sosial mereka yang khas. Karena itu pula, istilah ‘video masyarakat’ atau ‘video rakyat’ juga tidak digunakan disini karena kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia cenderung terlalu luas mencakup siapa saja.

Singkatnya, dengan atau tanpa menggunakan sebutan ‘partisipatif’, istilah ‘video komunitas’ dengan sendirinya mengandung pengertian yang mempersyaratkan keterlibatan anggota kelompok masyarakat dimana video itu dibuat dan digunakan. Ini merupakan suatu keharusan, mutlak harus dilakukan, sehingga sebenarnya tak perlu dipersoalkan atau diperdebatkan lagi. Lagipula, hampir semua prakarsa video komunitas yang dikenal selama tidak mulai dengan kepusingan peristilahan yang digunakan untuk menyebut diri mereka, bahkan banyak sekali yang tanpa istilah apapun.

Inilah yang terutama dan paling mendasar membedakan antara video komunitas dengan video atau film lainnya. Pembuat video atau film profesional dan komersial, misalnya, menganggap pekerjaan mereka sudah selesai ketika video atau filmnya juga sudah selesai sebagai suatu hasil karya. Sementara hasil karya mereka itu akan ditonton oleh orang lain yang sebagian besar tidak dikenalnya sama sekali, mereka akan segera memikirkan karya video dan film berikutnya yang umumnya tidak ada kaitan lagi sama sekali dengan produk video atau film mereka sebelumnya. Sebaliknya, pembuat video komunitas justru baru memulai pekerjaan yang sesungguhnya ketika video atau filmnya sudah selesai. Mereka akan menggunakan video atau film tersebut sebagai alat untuk memulai proses-proses diskusi di tengah masyarakat yang sangat dikenalnya -atau, karena dia sendiri memang adalah bagian dari mereka– tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tema atau isu yang diangkat dalam video atau film tadi. Karena itu, bisa saja terjadi suatu produk video komunitas dibuat ulang kembali sesuai dengan hasil dari proses-proses diskusi antar warga.

Dengan kata lain, video menjadi alat penghubung atau komunikasi antar warga mengenai berbagai persoalan yang mereka hadapi, menjadi bahan diskusi kelompok untuk bersama-sama mencari jalan keluar dari berbagai permasalahan tersebut; sekaligus sebagai alat mendokumentasikan proses-proses pemecahan masalah yang mereka tempuh; dan, akhirnya, berkembang menjadi alat refleksi bersama untuk menentukan pilihan-pilihan arah dan cara-cara yang lebih baik dalam tindakan-tindakan mereka berikutnya.

Dan di sinilah peran fasilitator dalam konsep video komunitas, yakni melakukan serangkaian tindakan yang merangsang atau mendorong lahirnya gagasan dan daya-cipta (kreativitas) anggota masyarakat setempat sebagai pelaku utama pembuatan video atau film tentang diri (masalah-masalah, kegiatan, keadaan, lingkungan, kehidupan) mereka sendiri. Dengan memperkenalkan cara-cara penggunaan dan karakter teknologi video sebagai ’sarana bicara’ untuk mereka, warga setempat diharapkan memiliki tambahan bahasa pengungkapan -bahasa visual-sebagai alat efektif untuk menyatakan perasaan, pikiran, dan pandangan-pandangan mereka sendiri (inside view) terhadap berbagai hal yang terjadi di lingkungan dan dalam kehidupan mereka. Ini akan sangat membantu mereka -terutama yang di daerah pedesaan terpencil-mengatasi kesulitan menyatakan sesuatu melalui kata-kata, apalagi jika berhadapan dengan orang luar yang berkedudukan sosial dan berpendidikan lebih tinggi dari mereka. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu bahkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih besar bagi warga setempat untuk merasa lebih setara dengan orang luar yang selama ini mereka anggap ’sudah lebih maju’ dibanding diri mereka sendiri. Orang-orang dari luar juga menjadi lebih berkesempatan untuk menyaksikan -secara lebih hidup dalam bentuk visual– ungkapan perasan, pikiran, dan pandangan warga setempat. Ini membuka kemungkinan lebih besar bagi mereka untuk belajar lebih berendah-hati memahami cara-pandang orang lain yang lebih sering mereka abaikan selama ini, sehingga memungkinkan tumbuhnya empati dan dialog yang sesungguhnya, mengurangi ‘cap-miring’ (stereotpe) dan prasangka. Jadi, pengertian video komunitas sebagai alat pembelajaran, sebenarnya bukan hanya berlaku khusus untuk warga setempat, tetapi juga bagi orang luar yang berhubungan dengan mereka.

Pengalaman Julian Faulkner di Brazil, menunjukkan bahwa video bisa menjadi instrumen yang sangat ampuh untuk menciptakan berbagai bentuk partisipasi yang berbeda karena mampu “memberi suara kepada masyarakat ketimbang memberi pesan.” Sayangnya, dalam konteks partisipatif secara tradisional video lebih banyak dipergunakan untuk partisipasi  yang sifatnya instrumental, yakni menyampaikan pesan, bukan transformasional, yang berarti memberikan suara kepada masyarakat dengan melibatkan partisipan dalam pembuatan dan penentuan isinya.

Video komunitas juga membuka kesempatan kepada setiap anggota masyarakat setempat untuk terlibat aktif di dalam proses pembuatannya. Pernyataan dari semua kalangan dan lapisan warga yang berbeda dapat direkam, sehingga banyak suara yang tidak pernah terdengar, atau wajah-wajah yang tak pernah terlihat dalam berbagai kegiatan bersama warga selama ini, atau bahkan hal-hal yang selama ini kurang diperhatikan oleh warga setempat -karena sudah dianggap ‘terlalu biasa’– dapat dimunculkan di depan kamera. Video komunitas berpotensi besar untuk merangsang munculnya sebuah perubahan dan pembaharuan karena sesungguhnya melahirkan dan mempercepat pertukaran gagasan-gagasan kreatif di antara warga masyarakat setempat. Proses-proses inilah yang membantu warga masyarakat setempat untuk berimajinasi secara visual tentang apa masalah-masalah nyata yang mereka hadapi saat ini, apa sesungguhnya yang ingin mereka capai di masa depan, dan apa yang harus mereka lakukan untuk itu semua.

Video Partisipatif sebagai bagian dari Citizen Journalism diharapkan mempermudah proses belajar yang bertujuan membangkitkan berbagai tindakan yang mampu menyuarakan kepentingan-kepentingan lokal yang belum ‘tersentuh’ oleh pihak luar. Keterlibatan masyarakat tidak hanya dalam menganalisa masalah yang dimunculkan, tetapi juga bagaimana tekhnis visual itu mampu dipahami secara sederhana namun inspiratif dan akhirnya melengkapi kualitas visual. Arahannya, bahwa film ini  tidak akan terlepas dari ide dasar yaitu memberikan pengetahuan dan pemahaman ‘melek media’ bagi masyawarakt awam yang selama ini terpinggirkan dari konstruksi media mainstream.

Nanang

Research-Development DOUBLE-D Film





Who’s this kid?

22 12 2008

Si anak kecil itu menyelinap di balik tungku perapian…

Dia terdiam sunyi terengah-engah dalam nafasnya yang kecil…

Ia penuh ketakutan untuk menampakkan jati dirinya..

Ia takut akan Durjana yang masih menghantuinya semalam.

Kini mata anak itu menatap api yang nampaknya mampu membuka setapak gundahnya…

Rahasia kecil itu kini pudar…

Tidak ada yang mampu meredam misteri apapun di balik ni semua….

Anak kecil itu kembali berlari entah  kemana..

Dan rumput liar disekitar kaki telanjang mungilnya hanya terdiam…

Dan sesekali menghela nafas….

Kini, anak kecil itu menghilang…

Tak lagi terdengar nafas kecilnya yang parau….

Kini..dia menghilang….

Bandung, October 2003, Asrama NHI-Bandung





IBU….

22 12 2008

” Nak, bangun… udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja… ”

Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat.

Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan disebuah Perusahaan Tambang, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.

” Ibu sayang… ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa “

pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca … orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ….. tapi entahlah…. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya,

” Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? ”

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana

. Terbata-bata Ibu berkata,

Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri ”

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.

Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,

” Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,

” Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. ”

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi…

Ah, maafin kami Ibu … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

” Nak… bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. ”

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,

” Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu…”.

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu… Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “,

namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita .. Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.

Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wallaahua’lam

“Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…, dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil ”





Untukmu Bunda..

22 12 2008

Syukur Alhamdulillah ku ucap untukMu ya Allah….Atas ijinMu aku masih bisa menikmati anugerahMu…bernafas dalam buaianMu..bahkan menangis atas dosaku padaMu…

Tuhan…hari ini Engkau memuliakan Ibuku…Kau sabdakan Surga diatas kaki Ibu..Terima kasih Tuhan…

“Ibu, apa kabarmu hari ini….???

Maafkan anakmu ini…dihari ini..anakmu tak mampu menyembah kakimu..karena jarak dan rentang hidup yang harus membuatku bertahan di sini…Jogja..Kota yang kau tunjukkan atas hidupku…atas jalanku…bahkan dosaku…

Ibu….Trima kasih atas bimbingmu..Kau ajarkan aku bagaimana melihat dunia…Kau ajarkan aku atas kasih sayang…Kau ajarkan aku menjalani hidup…Kau ajarkan aku makna kesabaran….Bahkan kau ajarkan aku bagaimana melihat hitam dan putih….

Sedari kecil..kau titih aku dalam melangkah…Kau gantikan bajuku yang lusuh karena debu dan kotoran…Kau suapi aku dengan nasi putih hasil racikanmu menjelang fajar…Kau hantar aku sekolah…Kau kantongkan beberapa recehan untuk bekalku jajan di sekolah….Kau bimbing aku belajar..mengeja huruf demi huruf dan tiada pernah kau mengeluh atas itu…

Kau tiada pernah marah air susumu ku habiskan…Kau tiada pernah marah atas kenakalanku waktu itu….Kau dengan sabar membimbingku…mengajariku….menuntunku hingga aku dewasa…..

Ibu..hatimu sungguh mulia…Engkau sandingkan ribuan doa untuk anakmu…Engkau tebarkan senyummu tiap kali aku mengeluh…Engkau tunjukkan kesucian tiap kali dustaku bersabda…

Ibu..maafkan aku yang masih membalita…Bahkan belum mampu membuatmu bahagia..Pun engkau tetap tersenyum dan berdoa untukku…

Ibu..bimbinglah aku dengan kasih sayangmu…Jangan pernah lepaskan pelukanmu dariku…Karena kehangatanmu adalah sabda dalam setiap jejak langkahku….

Ibu..Terima kasih atas semuanya..

Untukmu Tuhan….

Panjangkan umur Ibuku…Kiranya Engkau tetap menghiasi Ibuku dengan titahMu…Sabdakan selalu kebahagiaan untuk ibuku…Sabdakan selalu kesabaran untuk ibuku..karena itu doa bagiku…Bimbinglah ibuku dalam cinta kasihmu..Agar auraMu indah menghiasi wajah dan hati ibuku…

Untukmu Tuhan….

Berikan aku kesempatan membahagiakan ibuku….Biarkan aku tetap bersenandung indah di ruang dengarnya…Kebahagiaannya merupakan tujuan hidupku….

Semoga Allah membimbingku atas kasihNya dalam buaian Ibu-Bapakku..

Amien…

Jogja, 22 Desember 2008

Salam sayang dan kangen untukmu Bunda….





OBAMA’s WINNING SPEECH….”CHANGE HAS COME”

16 11 2008


If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

It’s the answer told by lines that stretched around schools and churches in numbers this nation has never seen; by people who waited three hours and four hours, many for the very first time in their lives, because they believed that this time must be different; that their voices could be that difference.

It’s the answer spoken by young and old, rich and poor, Democrat and Republican, black, white, Hispanic, Asian, Native American, gay, straight, disabled and not disabled – Americans who sent a message to the world that we have never been just a collection of individuals or a collection of Red States and Blue States: we are, and always will be, the United States of America.

It’s the answer that led those who have been told for so long by so many to be cynical, and fearful, and doubtful of what we can achieve to put their hands on the arc of history and bend it once more toward the hope of a better day.

It’s been a long time coming, but tonight, because of what we did on this day, in this election, at this defining moment, change has come to America.

PARTNERS IN THE JOURNEY

A little bit earlier this evening I received an extraordinarily gracious call from Senator McCain. He fought long and hard in this campaign, and he’s fought even longer and harder for the country he loves. He has endured sacrifices for America that most of us cannot begin to imagine. We are better off for the service rendered by this brave and selfless leader.

I congratulate him, I congratulate Governor Palin, for all they have achieved, and I look forward to working with them to renew this nation’s promise in the months ahead.

I want to thank my partner in this journey, a man who campaigned from his heart and spoke for the men and women he grew up with on the streets of Scranton and rode with on that train home to Delaware, the vice-president- elect of the United States, Joe Biden.

And I would not be standing here tonight without the unyielding support of my best friend for the last 16 years, the rock of our family, the love of my life, the nation’s next first lady, Michelle Obama. Sasha and Malia, I love you both more than you can imagine, and you have earned the new puppy that’s coming with us to the White House.

And while she’s no longer with us, I know my grandmother is watching, along with the family that made me who I am. I miss them tonight, and know that my debt to them is beyond measure. To my sister Maya, my sister Auma, all my other brothers and sisters – thank you so much for all the support you have given me. I am grateful to them.

To my campaign manager David Plouffe, the unsung hero of this campaign, who built the best political campaign in the history of the United States of America. My chief strategist David Axelrod, who has been a partner with me every step of the way, and to the best campaign team ever assembled in the history of politics – you made this happen, and I am forever grateful for what you’ve sacrificed to get it done.

VICTORY FOR THE PEOPLE

But above all, I will never forget who this victory truly belongs to – it belongs to you.

I was never the likeliest candidate for this office. We didn’t start with much money or many endorsements. Our campaign was not hatched in the halls of Washington – it began in the backyards of Des Moines and the living rooms of Concord and the front porches of Charleston.

It was built by working men and women who dug into what little savings they had to give $5 and $10 and $20 to the cause.

It grew strength from the young people who rejected the myth of their generation’s apathy; who left their homes and their families for jobs that offered little pay and less sleep; it grew strength from the not-so-young people who braved the bitter cold and scorching heat to knock on the doors of perfect strangers; from the millions of Americans who volunteered, and organised, and proved that more than two centuries later, a government of the people, by the people and for the people has not perished from the Earth.

This is your victory.

THE TASK AHEAD

I know you didn’t do this just to win an election and I know you didn’t do it for me. You did it because you understand the enormity of the task that lies ahead. For even as we celebrate tonight, we know the challenges that tomorrow will bring are the greatest of our lifetime – two wars, a planet in peril, the worst financial crisis in a century.

Even as we stand here tonight, we know there are brave Americans waking up in the deserts of Iraq and the mountains of Afghanistan to risk their lives for us.

There are mothers and fathers who will lie awake after their children fall asleep and wonder how they’ll make the mortgage, or pay their doctor’s bills, or save enough for their child’s college education. There is new energy to harness and new jobs to be created; new schools to build and threats to meet and alliances to repair.

REMAKING THE NATION
The road ahead will be long. Our climb will be steep. We may not get there in one year or even in one term, but America – I have never been more hopeful than I am tonight that we will get there. I promise you – we as a people will get there.

There will be setbacks and false starts. There are many who won’t agree with every decision or policy I make as president, and we know that government can’t solve every problem. But I will always be honest with you about the challenges we face. I will listen to you, especially when we disagree.

And above all, I will ask you to join in the work of remaking this nation the only way it’s been done in America for 221 years – block by block, brick by brick, calloused hand by calloused hand.

ONE NATION, ONE PEOPLE

What began 21 months ago in the depths of winter cannot end on this autumn night. This victory alone is not the change we seek – it is only the chance for us to make that change. And that cannot happen if we go back to the way things were. It cannot happen without you, without a new spirit of service, a new spirit of sacrifice.

So let us summon a new spirit of patriotism; of service and responsibility where each of us resolves to pitch in and work harder and look after not only ourselves, but each other. Let us remember that if this financial crisis taught us anything, it’s that we cannot have a thriving Wall Street while Main Street suffers – in this country, we rise or fall as one nation; as one people.

Let us resist the temptation to fall back on the same partisanship and pettiness and immaturity that has poisoned our politics for so long. Let us remember that it was a man from this state who first carried the banner of the Republican Party to the White House – a party founded on the values of self-reliance, individual liberty, and national unity.

Those are values that we all share, and while the Democratic Party has won a great victory tonight, we do so with a measure of humility and determination to heal the divides that have held back our progress. As Lincoln said to a nation far more divided than ours: “We are not enemies, but friends… though passion may have strained it must not break our bonds of affection.”

And to those Americans whose support I have yet to earn – I may not have won your vote tonight, but I hear your voices, I need your help, and I will be your president too.

AMERICA IN THE WORLD

And to all those watching tonight from beyond our shores, from parliaments and palaces to those who are huddled around radios in the forgotten corners of the world – our stories are singular, but our destiny is shared, and a new dawn of American leadership is at hand.

To those who would tear the world down – we will defeat you. To those who seek peace and security – we support you.

And to all those who have wondered if America’s beacon still burns as bright – tonight we proved once more that the true strength of our nation comes not from the might of our arms or the scale of our wealth, but from the enduring power of our ideals: democracy, liberty, opportunity and unyielding hope.

For that is the true genius of America – that America can change. Our union can be perfected. And what we have already achieved gives us hope for what we can and must achieve tomorrow.

A HISTORY OF STRUGGLE

This election had many firsts and many stories that will be told for generations. But one that’s on my mind tonight is about a woman who cast her ballot in Atlanta. She’s a lot like the millions of others who stood in line to make their voice heard in this election except for one thing – Ann Nixon Cooper is 106 years old.

She was born just a generation past slavery; a time when there were no cars on the road or planes in the sky; when someone like her couldn’t vote for two reasons – because she was a woman and because of the colour of her skin.

And tonight, I think about all that she’s seen throughout her century in America – the heartache and the hope; the struggle and the progress; the times we were told that we can’t, and the people who pressed on with that American creed: Yes, we can.

At a time when women’s voices were silenced and their hopes dismissed, she lived to see them stand up and speak out and reach for the ballot. Yes, we can.

When there was despair in the dust bowl and depression across the land, she saw a nation conquer fear itself with a New Deal, new jobs and a new sense of common purpose. Yes, we can.

When the bombs fell on our harbour and tyranny threatened the world, she was there to witness a generation rise to greatness and a democracy was saved. Yes, we can.

She was there for the buses in Montgomery, the hoses in Birmingham, a bridge in Selma, and a preacher from Atlanta who told a people that “we shall overcome”. Yes, we can.

A man touched down on the Moon, a wall came down in Berlin, a world was connected by our own science and imagination. And this year, in this election, she touched her finger to a screen, and cast her vote, because after 106 years in America, through the best of times and the darkest of hours, she knows how America can change. Yes, we can.

THIS IS OUR MOMENT

America, we have come so far. We have seen so much. But there is so much more to do. So tonight, let us ask ourselves – if our children should live to see the next century; if my daughters should be so lucky to live as long as Ann Nixon Cooper, what change will they see? What progress will we have made?

This is our chance to answer that call. This is our moment.

This is our time – to put our people back to work and open doors of opportunity for our kids; to restore prosperity and promote the cause of peace; to reclaim the American dream and reaffirm that fundamental truth – that out of many, we are one; that while we breathe, we hope, and where we are met with cynicism and doubt, and those who tell us that we can’t, we will respond with that timeless creed that sums up the spirit of a people: yes, we can.

Thank you, God bless you, and may God bless the United States of America

Source: http://news. bbc.co.uk/ 2/hi/americas/ us_elections_ 2008/7710038. stm





DIKOTOMI MAHASISWA PINTAR dan TIDAK PINTAR

16 11 2008

Sodara….LIFE IS AN OPTION…
Hidup adalah sebuah Pilihan….
Sekali kita salah memilih..maka Salah pula hidup kita…
Sodara…PILIHAN!!!
Hidup ini akan selalu dipenuhi dengan PILIHAN..
HITAM – PUTIH ; SIANG – MALAM; BENAR-SALAH
dan banyak lagi pilihan yang terkadang membuat kita bingung akan banyaknya pilihan – pilihan itu…
Tapi Sodaraku…..Jika Hidup tanpa Pilihan….
Tentu BUKAN HIDUP namanya…
Menjadi apapun kita nantinya…

Itu adalah PILIHAN..

Dan yang bisa menentukan PILIHAN itu…

Adalah diri kita sendiri…

Sodara, seperti “CERMIN” yang penulis sampaikan di atas, bahwa hidup merupakan sebuah pilihan. Pilihan atas hidup lebih tepatnya. Kita berhak menentukan akan menjadi siapa dan apa diri kita ini. Tentunya semua pilihan yang kita hadapi tidak serta merta tercipta atau muncul begitu saja. Namun akan datang manakala jika kita telah melewati rangkaian kehidupan, yaitu apa yang disebut sebagai PROSES. Ketika kita -paling tidak- sudah pernah melewati proses, dan mengambil makna dari proses itu, maka kita akan menjadi Peresensi Kehidupan. Dari Resensi Kehidupan inilah akan menghasilkan kearifan tindakan, peka dan mau belajar dari lingkungan sekitarnya. Demikian kalo pak Hadi Suyono (dosen Psikologi UAD dan penulis) mengatakan dalam bukunya.

Sodara, orang yang mau meresensi kehidupannya, berarti orang itu memiliki kejernihan pikir, kebeningan rohani, kepekaan sosial, mampu membaca pikiran orang lain dengan tepat, menghargai perbedaan, dan kemampuan untuk menyikapi dan beradaptasi dengan baik pada berbagai orang dan kesempatan. Hal ini akan menjadi bekal untuk melihat lingkungan dengan kacamata pandang bijak dan proporsional. Tidak hanya itu, kita akan menjadi orang yang inklusif dan menarik minat orang lain untuk berteman dengan kita. Demikian sedikit tentang apa yang disebut sebagai Resensi Kehidupan.

Manakah dari di bawah ini yang disebut Mahasiswa Cerdas?

a.        Rajin Belajar?

b.       Rajin Dandan?

c.        Punya banyak kenalan ce’ cantik / co ganteng?

d.       Punya “Komunitas Gaul”(tapi ga’ mo yg laen…)?

e.        Ga’ pernah mo ngasih contekan ke temen?

f.         Disukai teman?

g.       Disukai dosen?

h.       Lulus Cepat (D3 Cuma 2,5 tahun..S1 Cuma 3,5 tahun)?

i.         IPK berkisar antara 4,90 – 5, 90…?

j.         Aktivis Pergerakan Mahasiswa?

k.       Aktivitis UKM?

l.         Aktivis Partai Politik

m.     Enterpreneur/pengusaha?

n.       PNS?

o.       Petani?

p.       Dosen/Guru?

Sodara, mahasiswa yang CERDAS seharusnya mampu untuk menggunakan logika dan nalar memikirkan masa depannya. Mahasiswa yang CERDAS tentunya mampu berfikir untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan selama di bangku kuliah yaitu belajar dan menyelesaikan studinya dengan baik serta mengaktualisasikan dirinya dalam berbagai kegiatan (formal/non formal) untuk menggali potensi dan merangkai proses menuju masa depan. Bayangkan, berapa rupiah uang yang sudah dikeluarkan orang tua kita selama kita kuliah?  Kok seenaknya sendiri kita foya – foya, dugem, kumpul – kumpul dan kegiatan tidak produktif lainnya yang sama sekali tidak bermanfaat bagi potensi diri kita?

Sodara, melakukan kegiatan – kegiatan itu tidaklah salah (selama tidak terjerumus ke kehidupan yang negatif, NARKOBA dan sejenisnya), namun itu harus diimbangi dengan tanggungjawab kita sebagai anak. Pun juga harus siap menanggung segala konsekwensi yang mungkin terjadi, terutama yang berkaitan dengan masa depan kita.

Berhasil dalam studi, apalagi dengan IPK yang bagus, pasti membanggakan, dan juga itu merupakan modal.  Tapi apakah cukup dengan bermodal  IPK tinggi kita akan menjadi ‘berhasil’ meraih impian masa depan? Tentunya tidak. Kecerdasan akademis harus diimbangi dengan kecerdasan lainnya (Kecerdasan Sosial dan Kecerdasan Intelektual) agar fungsi ideal mahasiswa sebagai Agent of Change dan Agent of Renaissance

Kalo Mahasiswa Sekarang…?

-          Mahasiswa lebih memilih memuja “agama” baru yang disebut HEDONISME, yaitu gaya hidup yang berorientasi pada materi, foya – foya dan terbuai oleh kemewahan dunia.

-          Menipisnya nilai “KETUHANAN” dan AGAMA (konservatif)

-          Apatis, sikap acuh tak acuh terhadap kehidupan di sekitarnya.

-          Study Oriented, mahasiswa terjebak pada pendidikan instrumental yang an sich di arahkan pada orientasi akademik

-          Menurunnya minat mahasiswa untuk berkegiatan dan berorganisasi

Sodara, KECERDASAN sangat diperlukan untuk menjawab tantangan jaman. Jadi mari kita berdayakan diri untuk menjadi insan CERDAS. Jangan membelenggu ruang gerak dan potensi yang kita miliki hanya karena kehidupan hedonis. Ingat, masa depan berada di tangan kita, bukan berada di tangan orang lain ataupun ditentukan oleh orang lain, tetapi KITA.

Kesimpulannya, jika anda merupakan mahasiswa yang mempunyai IPK rendah, jangan resah atau takut bahwa  masa depan Anda akan suram. Manfaatkan potensi yang anda miliki. Jika tidak merasa punya potensi, maka cari itu. Tidak ada manusia yang tidak punya potensi. Hanya apakah kita akan membawa potensi itu ke arah negative atau positif, itu yang terpenting. Kejar  Dan sebaliknya,  mahasiswa yang punya IPK tinggi jangan berbangga hati.  Karena itu juga tidak akan berarti banyak, manakala jika, Anda berada pada lingkungan yang menuntut peran dan fungsi anda lebih dari sekedar nilai A+.

Cerdas Akademis + Cerdas Sosial + Cerdas Intelektual, itulah modal utama. Jika memilikinya maka kita akan mampu untuk melihat peluang sukses. Sekali lagi Mampu Melihat PELUANG SUKSES lho…!!! BELUM (pada artian) S U K S E S. Untuk menggapai kesuksesan itu, maka diperlukan KEBERANIAN. Berani melawan Hedonisme, Eksklusivisme, Apatisme, dan ‘isme’ lainnya yang dapat membelenggu langkah menuju masa depan kita.

Seperti yang di alami salah satu teman saya yang ‘diperlakukan beda’ oleh ‘A’-seorang dosen, karena alasan yang sedrhana..Panut tidak masuk dalam kategori ‘mahasiswa impian’….hehehe

Well….saya mengenal Panut sekitar tahun 2000. Dia adalah seorang musisi (PUNK) sekaligus pekerja seni, berpenampilan apa adanya, rambut gondrong, baju kumel, satu lagi tampangnya sangar. Pada suatu saat, ia mengalami kesulitan dalam penyelesaian skripsinya. Bukan dia yang malas mengerjakan, namun karena tekanan psikologis dari dosen pembimbingnya. Dosennya memandang remeh karena penampilan dia yang sama sekali tidak menarik dan terkesan urakan. Belum lagi secara akademis, nilai mata kuliahnya biasa – biasa saja. Makanya ketika dalam proses bimbingan, Panut sering dicuekin. Berbeda ketika dosen itu membimbing mahasiswa yang penampilannya “layak”, dan nilai mata kuliahnya bagus, IPK tinggi. Tak jarang Panut bersitegang dengan beliau, mempertahankan prinsip yang diyakininya, termasuk mempertahankan skripsinya.  Akhirnya dia berhasil lulus dengan IPK, 2,70. Dia tidak pintar, namun dia tetap berusaha keras agar meraih impiannya dan orang tuanya untuk menjadi Sarjana (Namaku Panut)*

Sodara, apa yang terjadi pada Panut hanya merupakan sepenggal kisah yang mungkin juga dialami oleh beberapa mahasiswa. Dikotomi mahasiswa ‘pintar’ dengan mahasiswa ‘tidak pintar’, nampaknya merupakan fenomena umum di setiap lingkungan pendidikan tinggi. Jika mahasiswa dianggap cerdas/pintar, maka mereka akan diperlakukan dengan baik. Apapagi jika mahasiswa pintar (secara akademik) itu tergolong mahasiswa ‘manutan’ dan tidak macam-macam. Hanya kuliah dan kuliah, dapat nilai A/A+, diberi label mahasiswa ‘pintar’, dekat dengan dosen, merupakan modal yang cukup untuk dengan mudah menyelesaikan tugas kuliahnya dengan baik.  Sedangkan bagi mahasiswa yang masuk kategori ‘tidak pintar’ (secara akademis), untuk mendapatkan nilai B saja, diperlukan waktu 3 kali mengulang, itupun yang terakhir melalui SP (Semester Pendek), diperlakukan dengan -maaf- repressif.

Hal ini tentunya harus kita sikapi dengan pemahaman yang obyektif, dan tetap mengedepankan nilai-nilai edukatif dan humanis, mengingat lembaga pendidikan tinggi merupakan kawah candradimuka sekaligus proses awal penggodokan sumber daya manusia demi masa depan. Jangan hanya karena mahasiswa – mahasiswa itu memiliki nilai edukatif yang lebih rendah, lantas kampus/dosen/pun juga mahasiswa ‘pintar’ itu menafikkan posisi mereka sebagai mahasiswa, dibandingkan dengan mereka – mahasiswa lain yang dianggap lebih ‘pintar’ secara akademik. Padahal belum tentu mahasiswa yang memiliki kepandaian edukatif  (pendidikan instrumental), akan dipandang ‘pandai’ juga di level social (pendidikan ornamental).   Bisa saja mereka mendapatkan nilai A+ di semua mata kuliah, dengan IP misalnya 3,79. Tapi, begitu mahasiswa itu berada dalam lingkungan sosial (teman kampus), maka ia tidak bisa bergaul dengan mereka, seolah-olah ia membuat jarak dengan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ‘kepandaian akademis’ tidak menjamin adanya ‘kepandaian sosial’, untuk bersosialisai dengan mereka para mahasiswa bertampang seram, kumel, pemalas dan lain sebagainya. Kalau saja kepandaian akademis itu diimbangi dengan kepandaian sosial, maka mungkin akan memotivasi mereka untuk juga memiliki kepandaian ‘ekademis’ juga.

Sodara, mereka masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Beberapa diantara mahasiswa ada yang memang ‘ditakdirkan’ menjadi anak cerdas dan pintar, namun ada juga yang ditakdirkan menjadi anak yang biasa-biasa saja, sedang, bahkan ada mahasiswa yang selalu berada pada area nasakom. Kemudian apakah hanya karena ’status kepintaran/kecerdasan’ mereka rendah, lantas mereka dipandang ‘rendah’  juga?

Semoga hal ini bisa menjadi awal pencerahan kita…..

Amien…

Salam, Nanang